Thursday, April 28, 2016

Restoring Hope After the Nepal Earthquake




It has been one year since a 7.8 magnitude earthquake struck Nepal, devastating communities across the country. From day one, the American Red Cross and its partners have been providing assistance to save lives and help families recover. We now take a moment to look back at the year that has passed and the work we are doing to create hope for the future. This has only been possible with the help of the government, our donors, partners, and community members.

Watch video: Click here



Friday, March 7, 2014

Kepemimpinan untuk pemulihan Karo pasca erupsi Sinabung

Setelah sekitar 5 bulan tinggal di pengungsian, akhir Februari lalu 17.150 orang kembali ke rumah-rumah mereka. Letusan gunung Sinabung yang mengeluarkan abu vulkanik serta bebatuan kecil telah merusak bukan saja tempat tinggal mereka namun juga sumber mata pencaharian mereka. Hampir 51 ribu hektar pertanian rusak tertutup abu vulkanik. Saat ini pemerintah dan warga dari 3 desa dalam radius 3 km dari kawah gunung Sinabung diperhadapkan pada masalah pelik yakni relokasi.

Relokasi memang diperlukan agar warga terdampak dapat membangun hidupnya kembali. Rumah baru dengan lahan pertanian baru. Namun seluruh pihak perlu menyadari pemulihan di daerah relokasi bak lomba lari marathon. Jalan panjang dengan berbagai hambatan kebijakan dan perangkap masalah sosial. Pertanyaan yang paling mendasar bagi 1.255 orang warga dari 3 desa itu adalah harapan akan kejelasan masa depan. Akankah mereka dapat pulih seperti sedia kala, seperti apa dan kapan? Jawaban ini perlu diberikan oleh kepemimpinan yang akan membawa masyarakat Karo pada pemulihan.

Kepemimpinan yang mumpuni

Mengerjakan pemulihan bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain waktunya yang panjang, memiliki aspek multi dimensi. Aspek ekonomi misalnya, bagaimana menghidupkan sumber penghasilan kembali sumber mata pencaharian, sawah dan ladang yang sudah rusak tertimbun debu vulkanik. Pemerintah perlu menata rantai produksi dengan dukungan kebijakan yang komprehensif. Pencetakan sawah baru tidak cukup hanya berhenti pada pembangunan saluran irigasi semata. Pemerintah perlu memberikan pendampingan bagi petani agar pola tanam yang dilakukan cocok dengan lahan yang baru. Dukungan pada masa-masa awal pemulihan perlu diberikan agar kegiatan tanam, pemeliharaan, panen dan penjualan dapat menimalisasi potensi kerugian petani.

Aspek lainnya adalah aspek hunian, bagaimana mereka dapat kembali menempati rumah tinggal sebagaimana sebelum terjadi bencana. Dan masih ada aspek-aspek lainnya yang tentu saja saling terkait. Kebijakan yang dipilih untuk mendukung satu aspek akan mempengaruhi aspek lainnya.
Untuk menjelaskan keterkaitan banyak aspek, ambilah contoh soal relokasi. Disini kita bisa belajar dari pengalaman dari korban longsor di Maninjau, Sumatera Barat. Longsor yang terjadi akibat gempa 2009, membuat mereka tinggal dalam penantian. Penantian di hunian sementara. Tak mudah membuka daerah pemukiman baru, karena berarti ada hutan yang dibuka. Membuka hutan, lebih lagi hutan lindung ada jalur perijinan yang panjang yang harus dilewati. Mekanisme kepemilikan juga masih belum jelas, bila seseorang menerima tanah di daerah relokasi maka mereka harus melepaskan hak atas tanah yang semula. Bagaimana jika tanah tersebut adalah pusaka keluarga, yang tidak mungkin mereka lepaskan. Bagaimana kalau daerah relokasi jauh dari tempat mata pencaharian. Amat sulit bagi seseorang yang seumur hidupnya menjadi petani langsung dapat bekerja di bidang lainnya misalnya nelayan. Merelokasi berarti memindahkan seluruh infrastruktur ekonomi ke daerah yang baru. Dan tentunya tidak mudah.

Menjanjikan untuk segera dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksipun perlu berhati-hati. Tengoklah pengalaman saudara-saudara kita di Mentawai. Setelah rumahnya dihempas gelombang tsunami pada tahun 2010, mereka menunggu sekitar 3 tahun untuk pekerjaan ini dimulai. Penantian panjang ini rawan dari sisi politik dan keamanan. Perlu kepemimpinan yang kuat untuk memadukan dan memanfaatkan sumber daya yang ada seberapapun kecilnya untuk pemulihan. Disini perlu peran kepemimpinan untuk menyatukan kekuatan masyarakat terdampak. Masyarakat Karo – khususnya desa Sukameriah, Bekerah dan Simacem - haruslah terus diberdayakan. Sekalipun mereka korban bencana pastilah tetap memiliki daya juang. Merekalah yang menjadi subyek pemulihan, bukan tinggal dalam kesedihan menunggu bantuan yang belum tentu jelas datangnya.

Kepemimpinan yang inspiratif

Memimpin 389 keluarga dari ketiga desa yang direlokasi itu bukanlah hal yang mudah. Untuk itulah mereka memerlukan pemimpin inspiratif yang terus dapat mengobarkan semangat juang dalam satu kesatuan. Pemimpin ini tidak saja harus mendapat dukungan dari warga tersebut namun perlu memikat elemen masyarakat luar untuk turut membantu. Dukungan multi pihak diperlukan karena pemulihan akan terlalu berat bila hanya ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah. Harapannya kepemimpinan seperti ini akan menarik banyak sumber daya untuk berperan serta.

Dukungan bisa datang dari lembaga-lembaga usaha, asalkan mereka dapat melihat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang. Pelaku usaha memerlukan pengawalan kepastian hukum dan kebijakan yang fair agar usaha yang dibangun menguntungkan sekaligus mensejahterakan masyarakatnya. Dukungan bisa juga datang dari lembaga non pemerintah. Pemulihan masyarakat pasca bencana menjadi sudah menjadi panggilan dari banyak penggiat kemanusiaan.

Pemimpin yang inspiratif haruslah memiliki inovasi dalam pemulihan pasca bencana. Meniru metode yang telah sukses diterapkan di daerah lain belum tentu akan berhasil diterapkan di Tanah Karo. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keragamannya. Tiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. No size fits all. Pemimpin yang cakap adalah mereka yang dapat menggali kekuatan dari keunikan masyarakat. Berangkat dari kearifan lokal pemulihan dapat dilakukan hingga ke elemen yang fundamental. Bila ini berhasil maka dapat diharapkan masyarakat yang dibangun dapat lebih tangguh terhadap bencana.

Kepemimpinan yang inspiratif dan mumpuni saat ini dinanti untuk memberi harapan. Sekalipun masa depan diliputi ketidak-pastian, masyarakat Karo perlu kejelasan arah kemana mereka akan menuju.

Arwin Soelaksono. 

Monday, January 20, 2014

This publication is available in Bahasa Indonesia

Indonesia Bangkit! 
Transformasi Masyarakat Rentan Menuju Tangguh Bencana dengan Dukungan Program Humanitarian

Buku ini memaparkan kegiatan pemulihan pasca bencana yang tantangan-tantangannya diungkap secara gamblang dan sulit anda temukan dalam literatur manapun. Persaingan antara NGO, gejolak inflasi, konflik dengan regulasi serta penghentian program merupakan bagian dari kenyataan pahit. Para penulis mengalami langsung pengalaman tersebut  sehingga buku ini lebih dari sekedar teori.

Tak berlebihan bila buku ini sebagai berbagi pengalaman antara para professional humanitarian sekaligus masyarakat umum pemerhati bencana.
___________
Dengan membaca buku ini, saya percaya pembaca akan semakin mendapat penjelasan bahwa program "early recovery" atau pemulihan awal harus mendapatkan penanganan serius (DR. Syamsul Maarif, M.Si. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
                                        ___________
Buku ini bukan hanya mengajak kita berbagi pengalaman dan belajar bersama; tetapi buku ini juga mengajak kita untuk "melawan lupa" atas kesalahan dan keburukan yang kita lakukan; sehingga kita selalu berusaha untuk semakin baik. (DR. Eko Teguh Paripurno. Geohazard & Disaster Researcher).
                                       ___________
Penulis dalam Indonesia Bangkit memberikan tauladan tentang bagaimana bekerja bagi keabadian, memitigasi kehilangan pengetahuan yang datang dari penderitaan dan keajaiban survival komunitas. (Jonatan A. Lassa PhD. Institute of Resource Governance and Social Change, Kupang) 
                                       ___________
Bangkit untuk membangun ketahanan bukan semata ditujukan kepada penyintas, namun haruslah menjadi cara pandang kolektif semua pihak, sehingga bencana bukanlah menciptakan siklus baru kerentanan dengan kebergantungan, tetapi inspirasi bagi konstruksi masyarakat baru dunia yang tahu apa artinya berbagi demi kebaikan bersama. (Victor Rembeth MA. National Manager, Disaster Resource Partnership of World Economic Forum).
                                       ___________
Harga Rp. 36.000,-. Dapatkan di toko Gramedia terdekat, atau hubungi Vica Nalura HP: 0813-8057-5370 email: vicanalura@gmail.com


Sunday, December 30, 2012

Kota Padang flash flood July 24, 2012

Flash flood that has occurred on July 24, 2012 in the city of Padang was surprising. The economic losses due to the flood amounted to IDR 271,365,000,000 and 4,399 people were evacuated. Even there were no fatalities in this accident; all stakeholders are called to learn from this incident so that the losses could be minimized when the disaster strikes. Capacity Development Support Program of Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) commissioned the Humanitarian Protocol and International Relations Consultant and West Sumatra Disaster Risk Reduction Analyst Consultant to do the learning. This ‘lessons learned’ document has been produced after a series of field observations, discussions and analysis.

The document contains studies on local government and community preparedness on disaster risk reduction and disaster response. The role of Information Communication Technology (ICT) and media also one of important topic has been studied and reported in this document. Another important topic has been studied is the impact of NGOs presence during the response and recovery following the West Sumatera 2009 earthquake.

The ‘lessons learned’ document available in Bahasa Indonesia. Click here  This document has been presented in a workshop “Flash Flood and Extreme Weather Disaster Management in West Sumatera” which has been carried out in Padang on mid December 2012. Workshop report also available in Bahasa Indonesia. Click here

Arwin Soelaksono - Disaster Response and reConstruction Padang Banjir Bandang West Sumatera Flash flood

Photo credit: Paparan Walikota Padang Dr. H. Fauzi Bahar MSi, Bencana Alam Banjir Bandang di Kota Padang 24 juli 2012

Monday, March 21, 2011

Mentawai Response Lessons Learned - A Spark of Hope to Rebuild Mentawai

There are so many things to be learned during responding Mentawai following the earthquake and tsunami. The destruction was massive and the challenge on responding it was enormous. The good thing in responding Mentawai is the agencies responded to West Sumatra Earthquake in 2009 was still in Padang or Padang Pariaman. The relationship between agencies and government which has been developed for months has also given contribution so that response to Mentawai was quite fast.

These lessons learned also capture the uniqueness of Mentawai response. The strong joint effort amongst agencies is one of the benchmarks of the response. This can be seen not only in the emergency phase but also in the government early recovery program.

During 3 months (October 25, 2010 – January 25, 2011) on responding Mentawai, seeing strong cooperation amongst agencies and also with the government is encouraging everyone. The rebuilding of Mentawai would be a long process due to the area’s years of under-development and difficult terrain. But this spirit of joint effort gives a spark of hope in rebuilding Mentawai.

To download lessons learned document click here.

Arwin Soelaksono - Disaster Response and reConstruction

Photo credit: Madrina Mazhar

Monday, March 14, 2011

Enhancement of the Recovery Quality through Joint Effort and Combined Strategic Program - Lessons Learned from West Sumatra Recovery

This paper will discuss the uniqueness of recovery effort in West Sumatera following the 2009 earthquake. The joint effort and combined strategic program was one of the uniqueness of the recovery. This initiative has proven its successes in building synergies amongst humanitarian agencies to speed up their program and enhance the recovery program quality and obviously reduce the program cost. In order to share this iniaitive to be replicated in other area, the paper give some recommendation which can be used for other program in other recovery effort.

Abstract

In the wake of the 2009 West Sumatra earthquake there were more than 75 international and national agencies works on recovery. Every agency has their experiences, approaches and expertise. It is rich variation on the way each agency undertake the recovery works. On the other hand government has their own perspective, policy and has already developed plans and budget. In the beginning it was difficult to find all efforts that can be intersected. All recovery stakeholders were firm on their decision on how the recovery effort should be implemented.

4 months after the disaster, international, national non-governmental organizations (NGO) and United Nations (UN) agencies that worked in shelter / housing program, started on taking initiative to harmonize their programs with the government plan. During that time serious study on the government plan had been carried out. The government quite open for inputs and both party – NGOs and government – established good relationship and mutual respect.

The joint effort and combined program in housing program caused other good implication. Other programs then interested to replicate this initiative. NGOs that joined in working groups such as Disaster Risk Reduction (DRR), Livelihood and other working groups tried to find synergies amongst them. The result can be sharing resource, joint funding and combined program. These initiatives surely increase recovery pace and enhance the quality.

Keyword: earthquake, West Sumatra, reconstruction, shelter, coordination

To download all paper content just click here

This paper was prepared to be presented in the 5th Annual International Workshop and Expo on Sumatra Tsunami Disaster & Recovery (AIWEST-DR 2010) in Banda Aceh, Indonesia on November 2010.

Arwin Soelaksono - Disaster Response and reConstruction